DPRD Provinsi Kaltim menyoroti Perusahaan Daerah Maloy yang berada di Kabupaten Kutai Timur. Maloy dianggap sia-sia lantaran belum ditaksir investor hingga saat ini.
Hal itu dibahas pada rapat LKPj. Ketua Komisi III DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud, menyebut, bicara masalah ekonomi Kaltim maka harus bicara segala sektor. Maloy misalnya, sektor yang digadang-gadang memberi investasi besar ternyata meleset.
“Maloy itu sia-sia, di sana begitu banyak investasi yang dimasukan. Menurut saya itu sia-sia, karena merupakan pelabuhan terbuka. Jika langsung terbuka, kita harus bikin lagi pemecah ombak harganya ratusan miliar,” katanya.
Dijelaskan dia, kondisi jalan penghubung menuju Kawasan Industri Malay hampir ratusan kilometer yang harus di investasikan. ” Kalau sudah begini, lalu siapa yang mau gunakan, melihat bagian Utara sisi pelabuhan sedikit. Agak susah,” katanya.
Menurut dia, kawasan industri paling tepat jika dibangun di Kota Balikpapan. “Pilihannya lebih bagus jika dibuat di Kota Balikpapan, karena bisa ke Sulawesi maupun Jawa. Tempat tersebut memungkinkan untuk melakukan investasi, menurut saya primadona. Pasti banyak yang mau bekerjasama,” jelasnya.
Saat ini, Hasanuddin menyarankan agar urusan Maloy agar berhenti dan diserahkan ke Kabupaten Kutai Timut. Karena memang itu bukan projek yang strategis, dan hanya menghamburkan uang daerah saja.
“Saya menyarankan untuk diberhentikan dan diberikan ke Pemkab Kutai Timur (Kutim) agar bisa diberdayakan oleh daerah setempat. Jadi tidak terlalu sia-sia,” pungkasnya.






















Users Today : 2
Users Yesterday : 15
Total Users : 31984
Total views : 124586
Who's Online : 1