Tanjung Selor, Infobenua — Sejarah berdirinya Kalimantan Utara (Kaltara), akan ditulis dan dinukukan. Oleh sebab itu dalam rangka mempertahankan dan memelihara sejarah Bumi Benuanta, tim penulisan sejarah Kaltara menemui Gubernur Zainal A. Paliwang sebagai tindak lanjut pembahasan mengenai penyusunan buku sejarah Kaltara.
Ada pun tim penyusun buku ini terdiri atas empat penulis, diantaranya adalah Masri Sareb Putra, Dodi Mawardi, Pepih Nugraha, dan Asvi Marwan Adam. Masri mengaku bahwa Gubernur Zainal telah memiliki komitmen kuat untuk mengembalikan sejarah Kaltara pada cerita awal terbentuk. Komitmen ini telah dimiliki oleh Gubernur Zainal dan Wakil Gubernur (Wagub) Yansen jauh sebelum memimpin Kaltara.
“Sejak awal kampanye beliau (Gubernur dan Wagub, red) telah mencanangkan untuk meluruskan sejarah Kaltara. Hal ini karena beliau memandang beberapa pihak masih menuliskan sejarah berdasarkan versinya sendiri,” jelas Masri usai pertemuan bersama Gubernur Zainal di Ruang Gubernur, Rabu (14/4).
Penyimpangan dalam penulisan sejarah Kaltara disebabkan oleh adanya tekanan-tekanan dari kelompok atau pun pribadi. Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltara memandang bahwa Kaltara adalah milik masyarakat luas, oleh karena itu setiap elemen yang ikut dalam pembentukan Kaltara wajib untuk masuk dalam sejarah.
“Gubernur memandang bahwa Kaltara ini milik kita semua, jadi semua orang yang aktif di dalam pembentukan itu harus muncul juga sebagai pelaku. Selama ini sejarah itu tidak mencerminkan kebersamaan dalam pembentukan Kaltara,” papar Masri, yang bertindak sebagai Ketua Tim Penulisan Sejarah Kaltara ini.
Menurut Masri, bahwa bukti dan tokoh-tokoh yang ikut terlibat dalam pembentukan Benuanta masih ada hingga sekarang, oleh karenanya sejarah ini akan dikenalkan melalui seminar dengan mengundang para tokoh agar sejarah Kaltara tidak bias.
Dia menjelaskan bahwa sesuatu dapat dikatakan sejarah apabila telah memenuhi empat hal wajb. Empat hal yang dimaksud adalah tokoh atau pelaku, peristiwa yang terjadi, tempat dan waktu, serta rangkaian peristiwa yang terjadi.
“Semua ini melibatkan sebuah studi ilmu sejarah, bagaimana pembuktian-pembuktiannya. Jadi tidak bisa lagi katanya-katanya, karena sejarah itu ada fakta yang harus dipertanggungjawabkan kebenarannya,” jelasnya Masri.
Masri juga mengaku bahwa Kaltara dapat lahir sebagai provinsi termuda di Indonesia melalui proses penjang yang pastinya melahirkan banyak peristiwa sejarah.
“Kaltara kan dari pemekaran, itu ada pembahasan sampai idenya dapat digulirkan, sampai bisa ke DPR (Dewan Perwakilan Rakyat, red), sampai jadi keputusan dan provinsi. Ini adalah satu proses,” tegasnya.
“Semua fakta yang tercerai-berai itu mau disatukan dalam satu meja. Ini tidak bisa kami sendiri karena ada teorinya, jadi butuh para tokoh-tokohnya langsung,” jelas Masri lagi.
Untuk diketahui bahwa tim pembuatan buku sejarah Kaltara telah melakukan penelitian di pusat dokumentasi kompas. Selain itu, buku Sejarah Kalimantan Utara rencananya akan diterbitkan sebelum ulang tahun Kaltara pada 25 Oktober nanti. (rio/ru).






















Users Today : 1
Users Yesterday : 2
Total Users : 31843
Total views : 118349
Who's Online : 1