Tanjung Selor, Info Benua — Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dikabarkan sedang melakukan penjajakan untuk bekerjasama dengan salah satu maskapai penerbangan Tiongkok untuk menjadi pengangkut ekspor hasil perikanan, terutama kepiting. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala DKP Kaltara Amir Bakry, bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi yang intensif dengan maskapai Cardig Air yang mengoperasikan pesawat rute Shenzen, Tiongkok ke Jakarta.
Ia menjelaskan, Cardig Air merupakan maskapai yang menggunakan pesawat kargo jenis Boeing 737-300 Fighter yang mengangkut barang elektronik dari Tiongkok ke Indonesia. Terdapat peluang kerjasama dengan maskapai tersebut mengingat ketika kembali ke Shenzen, pesawat tidak ada muatan. Bahkan, Amir menyebut pihak maskapai sudah menyetujui kerjasama yang disodorkan DKP Kaltara. “Pihak maskapai juga sedang memproses perizinannya. Mudah-mudahan izinnya bisa segera keluar,” katanya.
Amir yakin kerjasama tersebut bakal terwujud, apalagi program ekspor ini juga didorong kementerian, baik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perdagangan (Kemendag), serta kementerian dan lembaga lainnya. Ia menginginkan agar Kaltara menjadi eksportir kepiting terbesar di Asia. Sebab, selama ini yang dikenal sebagai pengekspor kepiting adalah Tawau, Malaysia. Padahal, kepiting Tawau asalnya dari Kaltara.
Secara terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Kaltara Hartono turut mendukung rencana kerja sama dengan maskapai Cardig Air yang sedang dikomunikasikan DKP Kaltara. “Kalau ini terealisasi, pendapatan nelayan dan petani tentu bisa lebih besar,” katanya kepada media akhir pekan lalu.
Akan tetapi, yang menjadi perhatiannya adalah soal biaya angkut barang menggunakan maskapai tersebut. Biaya angkut ekspor itu harus dilihat apakah sesuai dengan standar bagi nelayan atau petani. “Kalau kita hanya mengawasi masalah harga,” tegasnya, Jumat (22/3).
Ia membeberkan bahwa sektor perikanan di Kaltara memang cukup meyakinkan dan sudah menjadi salah satu sumber pendapatan nelayan maupun petambak. Dia berharap banyak investor yang berperan terhadap Kaltara dengan membeli hasil perikanan nelayan yang di provinsi ke-34 di Indonesia ini. “Tentu kalau perikanan kita laku, otomatis akan mengurangi masalah kemiskinan di Kaltara,” lanjutnya.
Lebih jauh dijelaskan, selain perikanan, ada beberapa komoditas di sektor pertanian yang menjanjikan untuk diekspor. Antara lain kopi dan lada. Namun, untuk bisa diekspor, perlu lebih dulu dikumpulkan melalui penyalur. “Lada ini yang paling utama walaupun sekarang harganya sedang turun. Tetapi, mudahan bisa segera kembali stabil karena bukan hanya Kaltara, semua daerah turun harganya,” jelas Hartono.
Sementara itu, terkait peluang ekspor tersebut, Hartono menilai para nelayan, petambak atau petani perlu membentuk sebuah koperasi agar semua barang bisa terkumpul. Dengan begitu, harga barang bisa menjadi lebih stabil. Koperasi tersebut tidak mesti hanya untuk satu komoditas, namun bisa untuk beberapa komoditas yang laku untuk diekspor. (ru/adv).






















Users Today : 1
Users Yesterday : 2
Total Users : 31843
Total views : 118342
Who's Online : 1
Comments 1