INFO BENUA.ID.SAMARINDA – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Samarinda menanggapi tajukan aksi yang disampaikan oleh Aliansi BEM se-Samarinda tentang “Patung Istana Merdeka Datang ke Samarinda”.
Pertanyaan tersebut ditujukan pada Wakil Presiden Republik Indonesia (RI), Ma’aruf Amin yang berkunjung ke Kalimantan Timur (Kaltim) pada Selasa (2/11/2021) lalu. Aliansi BEM se-Samarinda ini menaungi BEM KM Unmul, BEM Polnes dan BEM UMKT.
Pernyataan yang ramai disosmed ini lantaran dinilai tak pantas dan tidak beretika. Mengingat pernyataan “patung” ini disematkan pada orang nomor dua di RI yang juga sebagai ulama.
Dalam hal ini, Ketua PC PMII Kota Samarinda Usamah Ahmad Syahid menyampaikan menyebut bahwa Wakil
Presiden, Ma’ruf Amin sebagai ‘’Patung Istana Merdeka datang ke Samarinda’’
bukanlah pemilihan diksi yang tepat untuk para kaum intelektual.
“Karena hal ini merupakan
bentuk narasi tidak beradab yang menyerang pribadi seseorang yang mana adalah orang nomor dua di Indonesia. Pemilihan diksi yang ada di gambar tersebut justru terkesan menyerang personal seseorang, dan hal ini tidak terdapat korelasional dengan
caption yang digaungkan,” ucap pria yang akrab disapa Usamah ini, Kamis (4/11/2021).
Dilanjutkannya, Usamah menyampaikan jika berdasarkan pada peran mahasiswa sebagai agent of social control, seharusnya sebagai mahasiswa untuk bisa mengcontrol dengan menitikberatkan pada kajian ilmiah
sebagai basis data untuk mengkritik kinerja-kinerja pemerintah yang hari ini masih belum optimal terkhusus di Kalimantan Timur.
“Hal ni akan lebih terlihat sebagai kaum intelektual dalam bersikap serta bertindak. Indonesia memang merupakan negara demokrasi akan tetapi demokrasi yang dianut oleh
Indonesia adalah demokrasi Pancasila yang mana dari segi hukum warga negara memiliki aturan,” ungkapnya.
Berdasarkan UUD 1945, termasuk dalam hal ini yaitu kebebasan berekspresi dan
mengemukakan pendapat yang terdapat dalam pasal 28E ayat (3) harusnya diimbangi dengan melihat norma-norma yang berlaku.
“Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak. Abdullah bin Mubarak, ulama sufi, dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya
Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Artinya perlu digarisbawahi, di atas ilmu ada yang lebih urgen, yakni adab atau akhlak” jelasnya.
Sebab, ilmu seberapapun banyaknya tanpa disertai adab yang baik akan menjerumuskan manusia dalam
perilaku binatang, atau mungkin lebih rendah. Betapa banyak keruskan-kerusakan yang
terjadi di bumi ini justru karena ditopang kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi zaman sekarang.
Karena itu, yang paling mendasar dibutuhkan bagi peradaban
manusia adalah adab. Ilmu memang sangat penting, tapi pondasi berupa akhlak jelas lebih penting. Karena akhlaklah yang menyelamatkan manusia dari keserakahan, kezaliman,
kekejaman, keangkuhan, kebencian, dan sifat-sifat lainnya.
Sebagai mahasiswa kaum terpelajar adab juga perlu dijunjung tinggi ketika bertindak maupun bersikap terhadap apapun dan kepada siapapun.
“Menanggapi hal tersebut kami dari PMII Samarinda sangat menyayangkan pilihan diksi yang terkesan ambigu pada gambar tersebut yang menyebutkan bahwa Wakil Presiden RI pak Ma’ruf Amin sebagai ‘’ Patung’’ mengingat pemilihan diksi ini lebih mengarah kepada kata benda ketimbang kata sifat yang memang layak disandingkan pada seseorang terlepas dari kritik layangkan adab tetap harus didahulukan,” ucapnya.
Oleh karena sebab itu dirinya dan segenap kepengurusan PC PMII Kota Samarinda ingin meminta klarifikasi dari pihak terkait atas unggahan yang ada pada media sosial tersebut tentang patung.
Penulis : ainun























Users Today : 1
Users Yesterday : 12
Total Users : 32073
Total views : 126910
Who's Online : 1