Samarinda, Info Benua – Generasi millenial adalah generasi X yang lahir sekitar tahun 80 an hingga 90 an. Di era global teknologi digital saat ini generasi millenia menghadapi banyak tantangan yang menuntut sikap cerdas dalam menyikapinya.
Lembaga pendidikan seperti sekolah-sekolah baik dari tingkat dasar hingga menengah ke atas, dituntut kerja keras dalam mendidik dan mengawasi anak muridnya agar tidak sampai terjerumus untuk melakukan hal-hal yang negatif yang dapat merugikan masa depan generasi muda itu sendiri.
“Sekarang ini sangat besar tantangannya bagi orangtua dan kaum pendidik dalam menjaga dan mengawasi anak-anaknya. Dengan kemajuan teknologi, sekarang generasi millenial bisa mengakses segala informasi hanya dengan menekan tombol hanphone saja,” kata Ketua PGRI Kalimantan Timur (Kaltim), Drs H Musyahrim, MM, pada acara “Obrolan Santai Waroengkopi Samarinda” yang bertema Generasi Millenial Masa Depan Pendidikan Kaltim, bertempat di Gedung Guru Jl Harva Samarinda, 13 Februari malam kemarin.
Acara yang sangat santai dan cair ini dihadiri puluhan maha siswa dari Universitas Nakhdlatul Ulama (UNU) dan Universitas 17 Agustus (Untag), serta masyarakat umum yang peduli masalah pendidikan di Kaltim.
Acara yang digagas oleh Akay Production ini – yang dimoderatori oleh Rudi Mulyadi, S. Sos., M.Ikom, yang juga adalah seorang penyiar radio dan dosen dibeberapa Perguruan Tinggi di Samarinda – dikemas dengan gaya sangat santai dan cair, disiarkan langsung oleh beberapa setasiun radio dan jejaring internet.
Selain Drs H Musyahrim, MM sebagai pembicara utama, hadir pula dua orang pembicara yaitu Dr Fitriansyah, ST, MM dari Widyaiswara BPSDM Provinsi Kaltim, dan juga Chairul Aftah, SIP, MIA dosen FISIPOL dari Universitas Mulawarman.
Menurut Dr Fitriansyah, MM, menyangkut generasi millenial ini sebaiknya pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan, mempunyai dan mengembangkan sebuah konsep pendidikan kaum millenial yang tidak melupakan nilai-nilai budaya dan sejarah bangsa.
Sementara Chairul Aftah, SIP, MIA, secara lugas dan optimis mengatakan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia sangat cerdas dan pintar-pintar. Dia mencontohkan seorang generasi millenial yang berayah-ibu yang berlainan suku, misal Banjar dan Jawa, maka anak itu akan dapat menguasai tiga bahasa sekaligus. Bahasa Indonesia, bahasa Banjar dan bahasa Jawa. “Bukankah ini sangat pintar dan cerdas?” kata Chairul Aftah dan langsung disambut tepuk tangan yang meriah dari peserta dialog.
“Obrolan Santai Waroengkopi Samarinda” di Gedung Guru ini baru berakhir pada pukul sebelas malam. Dan menurut salah seorang kru Akay Production acara dialog sepertiini telah beberapa kali mereka selenggarakan dengan menghadirkan tokoh-tokoh dari semua kalangan, dan mendapat animo yang bagus dari masyarakat. Untuk minggu depan Akay Production berencana menghadirkan sosok seorang pebisnis dari Samarinda yang bisnisnya sukses secara nasional. (aswad).




















Users Today : 1
Users Yesterday : 11
Total Users : 32122
Total views : 130522
Who's Online : 1