INFO BENUA.Id -SAMARINDA- Wakil Ketua III DPRD Kota Samarinda Haji Subandi, sebut perlu adanya peningkatan kualitas tenaga pengajar dalam mempersiapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Samarinda.
Status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Mahasiswa (PPKM) di Kota Samarinda memang telah mampu memberikan angin segar pada seluruh penduduk Kota Samarinda.
Dengan berlakunya PPKM Level II ini, secara bertahap pemulihan kegiatan masyarakat pun kembali seperti normal.
Penurunan angka kematian akibat covid pun semakin melandai. Ini menandakan jika penanganan virus Covid-19 di Kota Samarinda menuai hasil yang maksimal.
“Wilayah kita juga sudah mulai melandai ini, harapan kita bisa segera hijau,” ucap Subandi dengan penuh harapan.
Dengan situasi yang mulai kondusif ini, segala persiapan seluruh aspek kehidupan masyarakat juga ikut bergerak. Termasuk proses pembelajaran di Kota Samarinda.
“Dengan kondisi sekarang yang sudah level dua ya, sekarang pun sosial masyarakat sudah di longgarkan,” lanjut politisi PKS tersebut.
Terkait dengan PTM, sebanyak 71 lembaga pendidikan telah melakukan PTM sejak bulan lalu. Hal ini menjadi upaya pemerintah dalam uji coba normalisasi pendidikan skala besar di kemudian hari.
“Khusus PTM ini bahasanya masih uji coba dulu, karena kita harus melihat perkembangan kedepannya,”ujarnya.
Menurutnya, dalam proses uji coba PTM ini, perlu adanya pengawasan yang ketat dalam sistem PTM tersebut.
“Ya perlu ada pengawasan ketat ya yang jelasnya, contoh dalam satu kelas kalau sekarang gak boleh full, itu di awasi juga,” jelasnya.
Di sisi lain, saat di konfirmasi mengenai terjadinya penurunan kualitas siswa atau Learning loss, Wakil Ketua III DPRD Kota Samarinda tersebut mengharapkan adanya inovasi pembelajaran yang mampu di kembangkan di setiap lembaga pendidikan yang melakukan PTM.
“Ini pentingnya inovasi dalam belajar, selalu mengupgrade kompetensi para guru, peningkatan skill dan cara ngajarnya juga perlu,” katanya.
Saat ini, penerapan PTM di beberapa lembaga pendidikan di Samarinda, cukup memberikan dampak positif di kalangan masyarakat. Namun di sisi lain, siswa perlu siap siaga untuk menerima perubahan sistem pembelajaran dari sistem online ke sistem offline.
“Sistem yang sekarang ini kan online ya, walaupun kemudian sebagian telah offline. Cuman ini jadi kendala juga sebenarnya. Bisa juga di kombinasikan, online berapa hari dan offline berapa hari,” jelasnya.
Namun, Subandi lebih memilih untuk tetao dilaksanakannya PTM. Hal ini dis ampaikan bukan tanpa alasan, pembentukan karakter kebangsaan siswa akan terbentuk saat melakukan proses pendidikan secara tatap muka.
“Tapi saya sepakat dengan tatap muka, karena dengan gitu bisa membentuk moral, etika, sopan santun itu tersampaikan secara langsung,” tambahnya.
Selanjutnya, Ia juga mengatakan jika proses PTM ini di lakukan secara acak dan tak luput dari pengawasan tim pansus DPRD Kota Samarinda.
“Kemarin yang 71 sekolah ini acak. Pansus juga terus berjalan melakukan sidak PTM di sekolah-sekolah yang ada. Yang jelas itu akan sangat perhatikan.”pungkasnya.
Penulis : abi/zul.
Editor. : Redaksi Utara























Users Today : 1
Users Yesterday : 1
Total Users : 32086
Total views : 129833
Who's Online : 1